Minggu, 21 Desember 2008

HARGA POKO PENJUALAN

Harga Pokok Penjualan

(Cost Of Goods Sold) – Basic

Sebagai pengantar pembahasan Harga Pokok Penjualan (Cost Of Goods Sold) kita akan mulai dasar-dasarnya terlebih dahulu, gambaran umum mengenai Harga Pokok Penjualan. Dengan pengetahuan dasar ini, saya berharap anda bisa memperoleh fundament yang cukup untuk melangkah ke pembahasan dan kasus yang lebih berkembang. Sehingga di akhir serie nanti anda bisa mendapatkan gambaran yang utuh dan penuh mengenai Harga Pokok Penjualan dan Harga Pokok Produksi. Sehingga tidak akan pernah bingung lagi walau dibolak balik bagaimanapun juga kasus-nya, berhadapan dengan jenis usaha apapun, dengan elemen cost yang bermacam-macam, anda akan tetap bisa memperlakukannya dengan benar dan akurat.

Difinisi Dasar Harga Pokok Penjualan


Pada dasarnya Harga Pokok Penjualan (istilah yang dipakai IAI) adalah segala cost yang timbul dalam rangka membuat suatu produk menjadi siap untuk dijual. Atau dengan kalimat lain, Harga Pokok penjualan adalah cost yang terlibat dalam proses pembuatan barang atau yang bisa dihubungkan langsung dengan proses yang membawa barang dagangan siap untuk dijual.

Struktur Harga Pokok Penjualan


Dengan difinisi di atas, dapat kita peroleh struktur dasar harga pokok penjualan. Harga pokok Penjualan pada dasarnya terdiri dari dari 3 (tiga) element besar saja:

[-]. Persediaan (Inventory)

[-]. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)

[-]. Overhead Cost

Persediaan

Untuk peruhaan dagang, elemen persediaan hanya terdiri dari “Persediaan Barang Jadi” saja, atau yang dikenal dengan “Inventory”.


Sedangkan perusahaan manufaktur persediaannya terdiri dari:


[-]. Persediaan Bahan Baku (Raw Materials)

[-]. Persediaan Barang Dalam Proses (WIP = Work In Pocess)

[-]. Persediaan Barang Jadi (Inventory)


Elemen “Persediaan” yang dimaksudkan dalam hal ini adalah besarnya “Persediaan Terjual”. Dan untuk mengetahui nilai persediaan yang terjual maka perlu mengetahui unsur-unsur dibawah ini terlebih dahulu :

[-]. Persediaan Awal

[-]. Pembelian (Untuk perusahaan dagang)

[-]. Harga Pokok Produksi (Untuk perusahaan manufaktur)

[-]. Persediaan Akhir

[-]. Persediaan digunakan (IAI menyebutnya “Barang Tersedia Untuk Dijual”)


Persediaan Awal:

Adalah besarnya (nilai) persediaan yang sudah kita miliki sebelum proses di periode ini dimulai. Artinya, persediaan tersebut telah ada sebelum aktivitas periode ini dimulai.


Pembeliaan:
Jangan lupa yang kita akui adalah “cost yang terjadi”, sehingga besarnya nilai pembelian yang kita akui hanya sebesar cost yang timbul saja, yang diwujudkan dengan “Pengeluaran Kas (cash disbursement)” atau pengakuan “Utang Dagang”. Sehingga nilai pembelian yang kita akui adalah sebesar nilai bersihnya (net purchase) saja. Hal ini perlu ditegaskan karena dalam praktek bisnis, seringkali sebagai perusahaan sebagai pembeli, baik itu pembelian barang jadi (untuk perusahaan dagang) maupun pembelian bahan baku (perusahaan manufaktur) memperoleh potongan harga (discount), bisa juga terjadi pengembalian barang kepada pihak penjual (Return). Untuk memperoleh nilai net purchase, maka kita perlu struktur menjadi:

[-]. Gross Purchase (biasa ditulis “Purchase” saja)

[-]. Discount

[-]. Return

[-]. Net Purchase


Persediaan Akhir:

Adalah besarnya persediaan yang kita bukukan sebagai “persediaan” diakhir periode.

Persediaan Digunakan/Terjual (Persediaaan Tersedia Untuk Dijual):

Adalah besarnya persediaan:

[-]. Barang dagangan yang terjual (untuk perusahaan dagang)

[-]. Besarnya Bahan Baku yang digunakan & barang dagangan yang terjual (untuk

perusahaan manufaktur).


Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)

Direct Labor Cost adalah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja yang langsung terlibat pada proses pengolahan barang dagangan. Dikatakan Direct Labor Cost hanya jika besarnya upah yang dibayarkan tergantung pada jumlah output product yang dihasilkan.


Yang termasuk ke dalam kelompok tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dibayar berdasarkan: “Upah Satuan” atau “Upah Harian/Jam”.
Dalam hal tenaga kerja dibayar dengan upah satuan, tentu dengan jelas bisa kita lihat bahwa upah tenaga kerja tersebut dapat dibebankan langsung pada product yang dihasilkan.

Jika upah yang dibayarkan berdasarkan jumlah jam kerja, maka biasanya perusahaan telah menentukan jumlah (satuan) yang harus dihasilkan untuk tengang waktu tertentu (per jam atau perhari). Sehingga pada akhir perhitungan, dapat diketahui berapa direct labor cost yang akan di bebankan untuk 1 satu unit product, dan total direct labor cost untuk akumulasi product yang dihasilkan.

Pada perusahaan pedagang kecil (small wholesaler atau retailer), direct labor cost sulit untuk bisa di alokasikan dengan semestinya. Sehingga Direct Labor Cost hanya bisa kita temukan pada perusahaan-perusahaan manufaktur atau pertambangan.

Overhead Cost

Adalah cost yang timbul selain dari ketiga kedua elemen tersebut diatas, yang biasanya disebut dengan indirect cost, jenisnya tentu saja bervariasi, tergantung jenis usaha, sekala usaha dan jenis sumberdaya yang dipakai oleh perusahaan. Yang jamak kita temui pada usaha manufaktur atau dagang adalah :

[-]. Sewa (Rental Cost)

[-]. Penyusutan Mesin & Peralatan (Depreciation on Machineries & Equipment)

[-]. Penyusutan Bangunan Pabrik (Factory’s Building Depreciation)

[-]. Listrik, Air untuk pabrik (Factory’s Utilities)

[-]. Pemeliharaan Pabrik & mesin (Factory & Machineries Maintenance)

[-]. Pengemasan (Packaging/Bottling & labor cost-nya)

[-]. Gudang (Warehousing Cost)

[-]. Sample produksi (Pre-production sampling)

[-]. Ongkos kirim (Inbound & Outbound deliveries)

[-]. Container (Continer)


Siklus dan Alur Jurnal Harga Pokok Penjualan


Inventory

Inventory (yang tercantum di dalam neraca pada periode sebelumnya), akan menjadi persediaan awal pada periode sekarang (current period). Jika persediaan tersebut terjual pada periode ini, maka persediaan tersebut di biayakan (expensed) dan diakui sebagai Harga Pokok Penjualan.


Proses pembebanan inventory dilakukan pada saat barang terjual (diserahkan) dengan jurnal:


[Debit]. Harga Pokok Penjualan (Inventory terjual)

[Credit]. Inventory

Catatan: untuk membebankan inventory terjual ke dalam harga pokok penjualan, jurnal di atas:

Sisi debit akan menambah harga pokok penjualan pada laporan laba rugi
Sisi kredit akan mengurangi nilai inventory pada neraca di akhir periode nanti
Jurnal tersebut berpasangan dengan:

[Debit]. Kas (atau piutang)

[Credit]. Penjualan

Catatan: untuk mengakui penjualan dan piutang (penerimaan kas) di periode tersebut

Jika pada periode yang sama terjadi penambahan inventory akibat pembelian barang dagangan, maka pembelian tersebut akan menambah nilai persediaan barang dagangan (inventory), atas pembelian tersebut di jurnal dengan:

[Debit]. Inventory

[Credit]. Cash (atau Utang Dagang)


Catatan: Jurnal diatas:

Sisi debit akan menambah nilai inventory pada neraca
Sisi kredit akan mengurangi kas atau menambah utang dagang pada neraca

Selanjutnya jika sebagaian dari barang tersebut laku terjual maka bagian yang laku terjual tersebut akan dibebankan ke dalam harga pokok penjualan seperti pada alur pertama tadi, dengan jurnal yang sama (tentu saja dengan nilai yang sesuai)

Work In Process & Raw Material


Untuk perusahaan manufaktur, disamping persediaan barang jadi, juga terdapat persediaan barang dalam proses (work in process) dan persediaan bahan baku.

Persediaan barang dalam proses & bahan baku pada neraca periode sebelumnya akan menjadi persediaan awal pada periode berjalan. Jika terpakai dalam proses produksi periode berjalan maka persediaan yang terpakai dibebankan ke dalam harga pokok penjualan dengan jurnal :


Untuk Bahan Baku:


[Debit]. Persediaan Barang Dalam Proses (WIP-Raw Material)

[Credit]. Persediaan Bahan Baku (Raw Material)


Untuk Barang dalam proses:


[Debit]. Inventory

[Credit]. Persediaan Barang Dalam Proses

Jika terjadi pembelian bahan baku, maka nilai pembelian tersebut akan menambah persediaan bahan baku pada neraca, atas pembelian bahan baku tersebut di jurnal:

[Debit]. Bahan Baku (Raw Material)

[Credit]. Cash (Utang Dagang)

Selanjutnya jika sebagian dari bahan baku yang dibeli tersebut dipakai, maka dilakukan penjurnalan seperti saat pembebanan persediaan bahan baku ke dalam Persediaan Work In Process di atas.

Direct Labor Cost & Over Head Cost

Direct Labor Cost aiakumulasikan dengan Raw Material Usage dan Work In Process Usage akan menghasilkan HARGA POKOK PRODUKSI, selanjutnya Harga Pokok Produksi dan Inventory akan membentuk Harga Pokok Penjualan.

Perhitungan Dasar Harga Pokok Penjualan

Jika kita buatkan formulasi dasar maka perhitungan Harga Pokok Penjualan dapat dirumuskan dengan:

HPP = Inventory Usage + Direct Labour Cost + Overhead Cost

Inventory Usage dapat kita turunkan menjadi :

Saldo Awal(+)Pembelian atau Penambahan(–)Saldo Akhir

Pembelian itu sendiri dapat kita turunkan menjadi:

Purchase atau invoice (-) Discount (-) Return

Format Pelaporan Harga Pokok Penjualan

Dengan Struktur, Alur dan perhitungan Harga Pokok Penjualan seperti di atas, maka format laporan harga pokok penjualan dapat kita construct. Hanya saja, contoh bentuk laporan akan saya berikan pada session berikutnya.

Lanjutkan! :

Harga Pokok Penjualan Untuk Perusahaan Dagang


Harga Pokok Penjualan Untuk Manufacturer

pada posting saya berikutnya.


Disana akan saya berikan penjelasan struktur, alur jurnal dan perhitungan disertai dengan contoh kasusnya. Juga akan saya tampilkan contoh struktur laporannya yang comprehensive, tidak ketinggalan bahas kajian perpajakannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar